//
you're reading...
Renungan

Biarkan Anakku terlelap dalam tidurnya

Marni masih sibuk membungkus jajanan yang dibeli para pembeli. Sementara Ipan anak laki-laki satu-satunya terlelap tertidur di atas alas kardus yang sengaja dipakai sebagai tempat tidur. Berbalut dengan kain samping Ipan seakan kebal dan tidak terganggu oleh suara bising lalu lalangnya kendaraan didepan meja jualan, ditepian trotoar jalan. Angin jalan menghembuskan udara dan debu, menyapu tepian jalan. Siang terasa panas, hanya secarik terpal yang disangga empat tiang bambu sengaja dipakai untuk sekedar melindungi dari sengatan matahari. Suasana jalan Diponegoro terasa pengap membekap setiap diri yang berjalan diatasnya.

Begitulah keseharian Marni bersama Ipan anaknya yang berjualan dipinggiran jalan Diponegoro Bandung. Suami Marni juga seorang pedagang es yang biasa berjualan dengan berkeliling menyusuri jalanan kota. Semangat hidup yang tinggi mengalahkan keadaan. Tak perduli dengan naiknya harga-harga kebutuhan pokok, tak perduli dengan naiknya tarif dan tek-tek bengek lainnya. Hidup harus terus dijalani. Walaupun berat menghimpit.

Dan Ipan anak pertama mereka…., biarkan dia terbentuk menjadi seorang pejuang yang tangguh, pejuang yang tak takut akan rasa lapar dan rasa haus.

“Selamat tidur anakku, dibalik lelap tidurmu ada pengharapan besar dari Ibu dan Bapakmu….”

 

“Allahu Akbar ! …. Allahu Akbar ! ….” batu-batu kecil berhamburan dari tangan-tangan mungil Ali dan Zahra. Sesaat kemudian mereka berlari menuju rumah mereka untuk berebut mengambil air minum. Keringat dikening mereka luruh menyusuri wajah-wajah yang tampak polos dan lugu. Tampak kecerian diwajah mereka jika mereka selesai berlatih melempar batu bersama anak-anak para pejuang intifadhah lainnya. Begitulah keseharian Ali dan Zahra, dua orang kakak beradik yang hidup bersama ibunya ditepian kota Gaza Palestina. Ayah dan seorang kakak tertua mereka telah meninggal dalam sebuah serangan Israel ke pemukiman tempat tinggal mereka beberapa bulan yang lalu. Sementara seorang kakak tertua mereka mengikuti jejak ayahnya syahid dalam sebuah serangan bom bersama beberapa pejuang palestina lainnya.

Anehnya, seakan tidak ada rasa sedih yang berkepanjangan dari wajah Ali dan Zahra. Mereka sekan telah terbiasa menemukan kondisi seperti yang mereka alami diantara teman-teman mereka yang ada disekitar tempat pemukiman mereka.

Jika malam tiba mereka telah terbiasa ditemani oleh suara Ibunya yang membimbing mereka untuk membacakan ayat-ayat Al-Qur’an. Mereka telah terbiasa menikmati ibunya mengantar tidur dengan menatap dan melafalkan ayat-ayat Al-Qur’an dan tanpa ditemani oleh suara TV dan radio..

Dalam larut malam mereka tertidur dengan tenangnya.

“Selamat tidur anakku, dibalik lelap tidurmu ada pengharapan besar dari umat dan bangsamu , biarkan lelapmu sebagai pengiring dan pengantar mu dalam menggapai kemenangan ….”

 

Iklan

About nugrohotech

i am a person who always want to know about anything...

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Me

KSA KBB

my topics

my files

Blog Stats

  • 470.180 hits

My Photos gallery

Iklan
%d blogger menyukai ini: