//
you're reading...
Artikel, Comunication, Pendidikan, Teaching & Presentation

Peningkatan Kecerdasan Literasi Digital sebagai upaya untuk Menangkal Berita Hoax

Tugas orangtua adalah menyiapkan anak menghadapi zamannya. Kita sebagai orangtua harus menyiapkan diri untuk membimbing anak dalam menghadapi era digital saat ini.

Agus Nugroho S.Pd, MT

Guru Rekayasa Perangkat Lunak SMK Negeri 1 Cimahi

antihoax

Foto: Sumber Antaranews.com

Era Arus Tsunami Informasi

Perkembangan Teknologi informasi dan media sosial memudahkan kita untuk berkomunikasi dengan cepat. Media sosial menjadi peranan penting dalam mendistribusikan sebuah informasi. Generasi digital mempunyai karakteristik dimana mereka aktif dalam media sosial seperti facebook, twitter, path, instagram, youtube, dan lain-lain. Generasi ini mempunyai sikap yang cenderung lebih terbuka, blak-blakan, serta berfikir lebih kritis dan agresif. Mereka memilih berekspresi bebas di sosial media dan tidak menyukai jika harus diatur atau dikekang. Media komunikasi seperti handphone, tablet dan smart komputer lainnya menjadi teman keseharian mereka, secara fisik mereka akan tampak autis dan menyendiri, namun kenyataannya pikiran mereka tengah berjalan menelusuri sisi kehidupan baru yang disebut dengan dunia maya.

Sumber Gambar  : Data internet world stat

Data diatas dikutip dari internet world stat dan menunjukan data yang sangat mengejutkan. Bahwa dari 262 juta populasi warga Indonesia, warga Indonesia yang aktif sebagai pengguna internet adalah sebanyak 132,7juta orang. Sementara jumlah warga yang mempunyai koneksi internet sebanyak 371,4 juta pengguna. Angka ini artinya melebihi jumlah total populasi penduduk Indonesia. Apakah ada yang salah? Tentu tidak, dari data tersebut disampaikan bahwa sebagian pengguna koneksi pesawat seluler di Indonesia memiliki  lebih dari 1 pesawat seluler. Sementara masih dari sumber yang sama disampaikan jumlah pengguna social media yang ada di Indonesia sebanyak 92 juta orang. Angka tersebut tentunya akan terus bertambah, jika melihat perkembangan teknologi internet dari sisi kemudahan menggunakan perangkat dan ketersediaan kecepatan koneksi yang sedemikian berkembang. Dari data perbandingan diatas dapat dilihat bagaimana pesatnya perkembangan teknologi informasi terhadap warga Indonesia.

Dengan melihat data diatas wajar kiranya jika kebutuhan setiap orang untuk mengakses internet sangatlah besar.

Dampak positif dari akses interne tentunya banyak dan tidak bisa kita nafikan diantaranya:

  1. Internet sebagai media pencarian informasi,
  2. Media pembelajaran, media sharing,
  3. Media konsultasi,
  4. Media untuk mengekspresikan diri,
  5. Sebagai alat bantu penjualan barang serta
  6. Sebagai sarana hiburan

Namun disisi lain, ada dampak negatif yang tentunya harus kita jadikan sebagai tantangan untuk dicari solusinya. Salah satu diantara dampak negatif tersebut adalah tersebarnya berita hoax.

Berdasarkan uraian diatas tidak salah jika saat ini kemudahan untuk mengakses internet, mengirim dan mendapat informasi semakin mudah, suatu hari kita bisa mendapatkan puluhan bahkan ratusan pesan berupa informasi baik yang penting maupun informasi sampah (junk information) berupa pesan berulang dan kita tidak akan bisa menahannya. Maka selamat datang di era Tsunami Arus Informasi.

Kecerdasan literasi digital antara generasi milenial dan generasi digital urban

 

Setiap perubahan yang terjadi akan selalu memberikan dampak. Walaupun bertujuan baik, setiap perubahan dapat memberikan dampak ketidaknyamanan. Kondisi inilah yang harus di jawab sebagai sebuah tantangan untuk dicari solusinya. Anak-anak kita adalah generasi milenial, generasi digital native dimana mereka semenjak lahir telah diposisikan mengenal perangkat elektronik dan perangkat digital sebagai alat yang membantu dalam kegiatan keseharian.

Disisi lain orangtua mempunyai posisi sebagai imigran native, yaitu generasi yang terlahir di era sebelum perangkat digital ada dan saat ini dipaksa untuk mengikuti pesatnya perkembangan teknologi informasi baik secara sadar maupun tidak. Generasi ini dahulunya terlahir dengan kesederhanaan teknologi dan suasana kehidupan yang serba manual. Kini mereka harus berjibaku dalam menghadapi sebuah perubahan. Sebab teknologi informasi seperti pisau bermata dua yang memberikan tuntutan dimana kehidupan ini harus memilih, menggunakan teknologi yang ada atau kita akan tertinggal dan tersisih dari persaingan.

Apa itu hoax?

 

Hoax, didalam Kamus Besar Bahasa Indonesia disebut sebagai ‘hoaks’ yang mempunyai pengertian ‘berita bohong.’ Sementara dalam Oxford English dictionary, ‘hoax’ didefinisikan sebagai ‘malicious deception’ atau ‘kebohongan yang dibuat dengan tujuan jahat’.

Hoax’ atau ‘fake news’ bukan sesuatu yang baru, kasus hoax sudah banyak beredar sejak Johannes Gutenberg menciptakan mesin cetak pada tahun 1439. Sebelum zaman internet, ‘hoax’ bahkan lebih berbahaya dari sekarang karena sulit untuk diverifikasi.

Dalam catatan sejarah Islam, berita yang bersifat bohong, berisi fitnah, atau hoax itu dicatat sebagai penyebab pertama guncangan besar bagi tatanan keislaman yang telah dibangun oleh Nabi Muhammad. Hal itu terjadi saat terbunuhnya Khalifah Usman bin Affan, yang kemudian disebut sebagai al-fitnah al-kubra (fitnah besar). Saat itu terjadi kesimpangsiuran informasi, diantara kubu beberapa orangnya saling menebar berita bohong tentang pembunuhan Khalifah Usman bin Affan untuk kepentingan politik. Akibatnya terjadi perpecahan yang pertama dalam sejarah Islam, yaitu peperangan antara Ali dan Muawiyah serta melahirkan sekte-sekte dalam Islam. Besarnya dampak dari banyaknya informasi yang simpang siur membuat Sayyidina Ali dengan cepat menasihati umat Islam agar jangan terjebak dalam kekacauan tersebut yang diakibatkan provokasi oleh berita bohong.

Dalam perkembangannya berikut ini penulis sampaikan beberapa jenis hoax yang beredar di masyarakat yang dapat dibedakan menjadi 4 tipe hoax.

  1. Berita hoax mutlak

Hoax mutlak merupakan berita bohong yang dibuat secara sengaja. Pembuatnya mengetahui bahwa berita itu bohong dan bermaksud untuk menipu orang dengan beritanya. Berita hoax semacam ini banyak bertebaran seiring dengan berkembangnya peralihan budaya membaca berita dari media cetak kepada media elektronik. Berita hoax mutlak sangat berbahaya karena bukan hanya berdampak pada pertentangan di dunia maya saja, namun juga dapat berakibat pada perpecahan dan benturan secara fisik diluar dunia maya.

  1. Berita hoax yang mengaburkan antara judul dan isi berita

Kebiasaan buruk yang banyak dilakukan oleh pembaca adalah hanya membaca headline atau judul berita saja tanpa membaca isinya. Banyak beredar artikel yang isinya benar tetapi diberi judul yang tendensius dan bermotif provokatif yang sebenarnya tidak sama dengan isi artikelnya. Tujuannya biasanya hanya untuk menaikan rating tempat sumber berita tersebut untuk keperluan bisnis online. Semakin tinggi rating sebuah web yang dikunjungi pengunjung maka semakin besar konversinya terhadap penjualan atau keuntungan pemilik web.

  1. Berita benar yang dipakai untuk menyesatkan

Berita hoax seperti ini merupakan berita yang secara fakta kebenarannya jelas, namun si penyebar hoax menggunakannya sebagai bahan berita yang disampaikan dengan cara:

  • Mengutip berita lama namun disebarkan pada waktu saat ini dengan tujuan memberikan persepsi sesuai keinginan penyebar berita.

Berita benar dan sudah lama diterbitkan bisa beredar lagi di sosial media jika digunakan oleh para penyebar berita hoax. Ini membuat kesan bahwa berita itu baru terjadi dan bisa menyesatkan orang yang tidak mengecek kembali tanggal kejadiannya. Berita hoax semacam ini biasanya dipakai sebagai sarana propaganda menyerang lawan untuk mengugurkan citra pihak yang diposisikan sebagai lawan penyebar berita.

  • Mengutip berita yang benar, namun oleh penyebar hoax konten berita yang ada dikurangi yang tentunya ini akan mengaburkan informasi yang sebenarnya.
  • Mengutip berita yang benar  namu diberikan tambahan untuk mendramatisir kejadian dengan tujuan untuk menyerang pihak lain. Tambahan berita bisa jadi merupakan informasi yang tidak ada relevansinya.

 

  1. Berita hoax dengan mengatas namakan seorang tokoh

Berita hoax semacam ini banyak beredar karena kekuatan nama tokoh yang seolah olah menulis berita tersebut. Sisi emosional pembaca menjadi target dari  pembuat berita dengan tujuan agar pembaca dapat turut menyebarkan informasi sesuai dengan tujuan pembuat berita. Maka berhati-hatilah dengan berita yang beredar melalui media sosial. Jika kita menerima sebuah berita melalui media sosial dengan mengatas namakan seorang tokoh, kita bisa melakukan cross check terlebih dahulu melalui media internet  atau menunggu beberapa saat hingga ada klarifikasi dari tokoh yang dikutip namanya.

Mengenal motif sebuah berita hoax

Saat ini teknologi informasi berkembang dengan sangat cepat, setiap perubahan yang ada mempunyai konsekuensi terhadap manusia. Perubahan teknologi informasi membawa perubahan kepada masyarakat khususnya perilaku masyarakat dalam mengakses berita. Jika dahulu berita hanya tersebar melalui televisi, radio dan koran, maka dengan kecanggihan teknologi informasi maka saat ini, kita dapat memperoleh berita apapun dalam sekejap. Hanya dengan koneksi internet dan pesawat seluler ditangan maka segala proses baik mengirim maupun menerima informasi dapat dilakukan dengan mudah.

Penulis sengaja menuliskan pada paragraf awal subbagian diatas sebagai sebuah gambaran optimisme dan juga keyakinan bahwa perkembangan teknologi informasi merupakan keniscayaan yang membawa perubahan baik positif bagi kehidupan manusia. Hal ini sekaligus meluruskan sebagian pemikiran bahwa perkembangan teknologi informasi merupakan hal yang harus disalahkan ketika banyaknya berita hoax yang muncul saat ini.

Berita hoax muncul karena adanya sebuah sebuah kepentingan. Berita hoax juga dipakai untuk menggiring Opini untuk suatu tujuan tertentu. Berbagai macam motif kepentingan menjadi dasar mengapa berita hoax itu muncul diantaranya ada 3 hal yaitu :

  1. Motif kepentingan politik
  2. Motif kepentingan bisnis dan persaingan
  3. Motif individu

Konsekuensi membuat dan menyebarkan berita hoax

Konsekuensi bagi para pelaku penyebar hoax bisa terancam Pasal 28 ayat 1 Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik atau Undang-Undang ITE. Di dalam pasal itu disebutkan, “Setiap orang yang dengan sengaja dan atau tanpa hak menyebarkan berita bohong dan menyesatkan, ancamannya bisa terkena pidana maksimal enam tahun dan denda maksimal Rp 1 miliar.” setiap orang harus berhati-hati dalam menyebarkan pesan berantai lewat perangkat elektronik. Saat ini banyak pesan singkat, maupun e-mail mengandung hoax yang bertebaran. “siapa saja yang mem-forward, disadari atau tidak, juga dapat dikenakan sanksi karena dianggap turut mendistribusikan berita bohong.”

Disinilah kecerdasan masyarakat dalam memilah dan memilih berita sangat diperlukan dan kembali lagi, kecerdasan literasi digital sangat dibutuhkan untuk menghindari hal ini.

 

 

10 Kecerdasan Literasi Digital untuk menangkal berita hoax

Tugas orangtua dan guru adalah menyiapkan anak untuk menghadapi zamannya. Kita sebagai orangtua harus menyiapkan diri untuk dapat membimbing anak dalam menghadapi era digital saat ini. Diperlukan upaya sungguh-sungguh dari orang tua untuk dapat beradaptasi dalam menghadapi era digital saat ini. Karena dengan adaptasi itu orangtua sebagai generasi imigran native akan sejalan dengan anak sebagai generasi digital native.

Perkembangan teknologi informasi mengakibatkan penyebaran informasi semakin cepat dan deras, era Tsunami Arus Informasi yang terjadi harus disikapi dengan baik sehingga kita terhindar dari berbagai berita hoax. Langkah sederhana yang dapat dilakukan oleh orang tua dan guru dalam memberikan edukasi terhadap anak, siswa maupun anggota keluarga lainnya dalam menyikapi beredarnya berita hoax yang ada di masyarakat.

Berikut ini adalah cara agar kita terhindar dari berita hoax dimana penulis menyebutnya sebagai 10 kecerdasan literasi digital:

  1. Biasakan membaca sebuah informasi dengan tuntas, jangan hanya membaca judul saja. Membaca berita dengan tuntas selain menambah wawasan juga merupakan bentuk kewaspadaan kita dalam menerima informasi. Segala sesuatu akan bisa karena terbiasa, jika kita sering membaca dan mengasah kecerdasan literasi digital kita, maka kita dapat dengan mudah membedakan mana berita hoax dan mana yang bukan.
  2. Rutinlah membaca berita dari media yang well-establisheddan mempunyai status legal formal yang terpercaya, sebagai contoh adalah pada berbagai media cetak maupun elektronik nasional. Orang yang paling rentan terhadap berita hoax adalah orang yang jarang membaca berita dari sumber yang jelas.
  3. Jika suatu berita terdengar tidak wajar, maka bacalah dengan lebih teliti. Sebab seringkali hal yang diluar kebiasaan dan tidak mungkin terjadi dijadikan sebagai bumbu viral sebuah berita hoax.
  4. Jangan membagikanartikel/foto/pesan berantai tanpa membaca sepenuhnya dan meyakini akan kebenarannya. Biasakan membaca lengkap, menganalisis dan melakukan cross check tentang berita yang diterima.
  5. Biasakan pula mengkonfirmasi sumber berita. Pastikan berita bersumber dari media atau sumber terpercaya, bukan sekedar berita broadcast yang tidak jelas sumbernya atau bahkan tidak mencantumkan sumber informasinya.
  6. Jangan terbiasa menyebarkan informasi tanpa mencernanya terlebih dahulu tanpa mengetahui isi lengkap dari berita.
  7. Biasakan jika kita menerima sebuah informasi yang belum jelas maka secara mandiri harus mencari informasi lain sebagai pembanding melalui internet atau bertanya langsung kepada pakar atau bahkan sumber berita.
  8. Berusaha untuk menguasai teknologi informasi saat ini khususnya Media sosial. Sebab dengan menguasai karakteristik media sosial maka kita akan mudah mengurai masalah mulai dari pengirim berita hingga konten berita yang disebarkan.
  9. Bagi para guru dan orang tua tingkatkan kecerdasan Literasi Digital sehingga dapat menjadi teman diskusi bagi anak, siswa dan atau anggota keluarga lainnya. Dengan itu kita bisa menjadi teman diskusi serta penyeimbang dari informasi yang ada.
  10. Tempatkan nilai agama sebagai sarana kontrol terhadap sikap dan perilaku kita dalam menggunakan media sosial.

 

Edukasi terhadap siswa di sekolah dan keluarga dalam menghadapi era arus tsunami informasi

Gambar Sumber: Network simulation modul

Perkembangan teknologi informasi memberikan dampak positif bagi kehidupan, namun jika kita tidak mengimbanginya dengan strategi yang tepat maka bisa jadi kita salah kaprah dalam menyikapi perkembangan teknologi informasi khususnya tentang menghadapi berbagai macam informasi negatif yang beredar dimasyarakat atau yang kita sebut dengan dengan berita Hoax.

Gambar diatas sengaja ditampilkan sebagai sebuah ilustrasi pola komunikasi masa depan. Jika setiap satu titik pada gambar diatas mewakili satu media sosial yang terkoneksi deangan media sosial lain, maka bisa kita bayangkan bagaimana mudahnya penyebaran berita hoax melalui jejaring media sosial. Tentunya setelah tersebar melalui media sosial, sebuah berita hoax tidak mudah untuk dihilangkan, tetapi akan semakin membesar.  Terlebih jika ada pihak lain yang turut mendramatasir isi berita, maka akan semakin dasyat dan masif dampaknya terhadap masyarakat.

  1. Edukasi terhadap anak dan anggota keluarga lain dirumah

Rumah merupakan tempat persinggahan bagi setiap orang termasuk anak-anak kita. Anak-anak sebagai generasi milenial, saat ini banyak disibukan dengan gadget atau perangkat digital lainnya. Terlebih jika para orang tua nya bekerja dengan intensitas waktu yang panjang hingga malam, maka secara otomatis  komunikasi dengan anak sangatlah kurang. Akibatnya karena tidak ada kesibukan atau karena tidak ada teman untuk berbicara, anak ketika dirumah akan mencari hal yang dia sukai, atau menjadikan gadget sebagai pilihannya. Pesatnya perkembangan dunia media sosial sangat memungkinkan anak terpapar oleh berbagai macam berita hoax. Berikut ini mungkin beberapa langkah sederhana yang bisa dilakukan sebagai upaya untuk menangkal terpaparnya berita hoax kepada anak dirumah.

    1. Langkah pertama adalah orangtua harus memahami tentang 10 Kecerdasan Literasi Digital yang telah dituliskan diatas.
    2. Buatlah suasana rumah yang nyaman dan komunikatif, biasakan untuk berkomunikasi secara intens dengan anak sekalipun orangtua sibuk dalam bekerja.
    3. Berikan pemahaman tentang fungsi dan penggunaan media digital secara bijaksana. Jika memungkinkan penggunaan perangkat diatur sehingga anak akan lebih terkontrol.
    4. Memfasilitasi peningkatkan aktivitas fisik anak sesuai dengan hobinya. Sehingga anak dapat menyibukan diri dengan aktifitas fisik dan bukan dengan gadget atau peralatan digital yang dia miliki.
    5. Diskusikan dengan anak setiap isu-isu viral yang beredar melalui media sosial dengan perimbangan berita yang bersumber dari media yang terpercaya.
    6. Berikan pemahaman tentang berita hoax, mulai dari apa itu berita hoax, ciri-ciri berita hoax dan bagaimana kita menyikapi berita hoax dengan benar.

 

  1. Edukasi terhadap siswa disekolah

Hampir setengah hari kegiatan anak dilakukan di sekolah. Sekolah sebagai tempat belajar anak pada prosesnya mengharuskan anak untuk berinteraksi dengan teman-temannya di sekolah. Intensitas interaksi anak dengan teman-temannya di dunia maya serta akses media digital yang dimiliki sangat memungkinkan anak bebas untuk mengakses informasi apa saja. Kebebasan penggunaan media digital membuat siswa memungkinkan siswa untuk terpapar berita hoax menjadi sangatlah besar, untuk itu peran serta guru dan sekolah dalam menangkal hal tersebut sangatlah diperlukan. Berikut ini adalah beberapa langkah sederhana yang bisa dilakukan sebagai upaya untuk menangkal terpaparnya berita hoax kepada anak disekolah.

  1. Langkah pertama adalah guru harus memahami tentang 10 kecerdasan literasi digital yang telah dituliskan diatas.
  2. Guru harus memahami perkembangan media sosial dan terlibat di dalamnya sebagai pengguna. Sehingga guru dapat memantau bagaimana perilaku siswa dan sikap siswa dalam dunia media sosial. Ada sebuah contoh dimana siswa turut berkomentar dengan teman-temannya dimedia sosial tentang berita hoax yang tengah hangat beredar. Maka diperlukan sikap yang bijak sebagai guru untuk menengahi dan memberikan pemahaman yang baik.
  3. Buatlah suasana kelas yang nyaman dan komunikatif, biasakan untuk berkomunikasi dengan siswa sesuai dengan bahasa komunikasi yang mereka rasakan nyaman antara Guru dan murid.
  4. Buat aturan yang akan membuat nyaman suasana kelas, misalnya saat pembelajaran berlangsung siswa dilarang menggunakan pesawat seluler dan hanya diberikan izin hanya saat jam istirahat saja. Selebihnya ketika mereka kembali masuk kelas maka pesawat seluler kembali harus disimpan pada tempat yang sudah disiapkan. Sebagai contoh guru dapat menyiapkan box dari kardus layak pakai untuk tempat penyimpan.
  5. Berikan pemahaman tentang fungsi penggunaan media digital secara bijaksana, jika memungkinkan guru dapat membuat berbagai macam media pembelajaran dengan menggunakan media digital, sehingga siswa akan disibukan dengan pembelajarn dengan media dan suasana yang mereka sukai. Sebagai contoh, penulis membuat blog pembelajaran, membuat grup facebook untuk sharing informasi dan hasil karya, membuat pameran bersama yang sederhana di lorong kelas, membuat grup komunikasi di media sosial dan juga kegiatan lainnya.
  6. Berikan pemahaman tentang berita hoax mulai dari apa itu berita hoax, ciri-ciri berita hoax dan bagaimana kita menyikapi berita hoax yang beredar disetiap awal pembelajaran dengan berbagai macam contoh kasus. Dengan penyampaian secara berulang, maka alam bawah sadar siswa akan merespon dengan baik setiap hal yang berhubungan dengan hoax.

Sebagai bagian penutup pada artikel ini, penulis menekankan bahwa perkembangan teknologi informasi merupakan sebuah keniscayaan yang positif. Beredarnya berita hoax saat ini merupakan dampak kecil saja dari sekian banyak tujuan positif dari berkembangnya teknologi informasi. Berpikir positif untuk mencari solusi dengan mau belajar sebagai generasi imigran native yang dapat mengimbangi perkembangan saat ini. Semoga tulisan singkat ini tentang 10 langkah dalam membangun kecerdasan literasi digital ini dapat bermanfaat untuk kita semua dalam memajukan bangsa Indonesia.

 

Daftar Referensi

  1. Buku Saku Mendidik Anak Di Era Digital – Kemdikbud
  2. Materi presentasi Net Ethique – Agus Nugroho
  3. Internet world stats
  4. https://nugrohotech.com/2016/12/30/syahwat-jempol/  Catatan blog harian penulis

 

 

 

Iklan

About nugrohotech

i am a person who always want to know about anything...

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Me

KSA KBB

my topics

my files

Blog Stats

  • 424,917 hits

My Photos gallery

%d blogger menyukai ini: