//
archives

Comunication

This category contains 14 posts

Perfect Puzzle

Hallo semuanya, maaf jika lama tidak sharing tulisan dan hal positif. Semoga pagi ini semua sehat dan tetap semangat.

Menarik sekali membaca tulisan Yasmin Mogahed dan menulis ulang dengan tambahan pemahaman saya, ada banyak kejadian yang membuat kita tetap bertahan hidup, momen ketika kita merasa hancur, dimana kita bangkit kembali dan membentuk sikap dewasa.
Momen dimana kita bertahan ataupun memutuskan untuk membiarkan pergi orang-orang yang memasuki dan mengubah rangkaian cerita kita. Mungkin ada yang membuat kita bahagia atau sebaliknya membuat kita terluka, seseorang yang mungkin datang dan pergi meninggalkan kita.
Kadang kita tidak mengerti mengapa bagian-bagian cerita itu kita jalani.
Namun terkadang waktu pula yang menjawab saat kita melihat ke belakang dari seluruh perjalanan hidup kita, ternyata semua yang kita lalui adalah puzzle kehidupan yang telah di desain sangat sempurna olehNya. Puzzle yang membuat kita belajar dan berpikir, terguncang dan merenung, jatuh dan bangkit serta terpuruk lalu menjadi kuat. Percayalah bahwa semua puzzle di desain sempurna oleh sang Maha Sempurna.
Jika puzzle yang didapat negatif, percayalah bahwa itu pelajaran besar untuk kita mengubahnya menjadi hal yang membuat kita berubah dan bergerak melesat kearah yang lebih baik, kondisi tersebut dalam bahasa lainnya dari Helmi Yahya disebut “ sweet revenge “.
Dan jika puzzle yang didapat itu positif maka jadikan motivasi untuk lebih baik.

Jadi ingat ketika kita mendapatkan puzzle positif maupun negatif maka sadari “this too shall pass” – dan ini juga akan berlalu, semua puzzle akan datang secara random bergiliran.
Terakhir saya mengutip tulisan Yasmin Mogahed:

Don’t be afraid of the puzzle you’re in now. It will fit perfectly… Just like the rest. How could it not? The Designer is perfect.

Selamat pagi dan semangat pagi!

Agus Nugroho, CM.NLP

Silahkan share tulisan diatas.

Grup WA – + Mind Channel
https://chat.whatsapp.com/ChCLlMj6vg97fTDXs9m2a0

Membangun Engagement

Engagement secara sederhana berarti komunikasi dua arah, yang menurut pakar komunikasi Wilbur Schramm (pada 1954) adalah komunikasi interaksional. Kunci dari komunikasi interaksional ini adalah umpan balik (feedback) atau tanggapan terhadap pesan atau konten tertentu.

Apa itu Social Media Engagement?

SME (Social Media Engagement) merupakan Cara Growth Hack terkini untuk meningkatkan value akun Social Media. Dengan meningkatkan interaksi seperti jumlah Followers, Likes, dan Views pada akun Social Media tentunya akan menumbuhkan kepercayaan konsumen dan interaksi yang organik.

Apa yang dimaksud Happy Engagement?

Tunangan adalah masa peralihan antara lamaran hingga pernikahan. Biasanya ada tradisi tukar cincin atau saling memberikan hadiah ketika tunangan. Happy Engagement merupakan ucapan selamat kepada pasangan yang baru saja melangsungkan pertunangan.

Kenapa Engagement Instagram penting?Mengapa engagement pentingEngagement mempengaruhi kemungkinan audiens Anda melihat postingan Anda pada newsfeed mereka. Dengan kata lain, engagement mempengaruhi visibilitas konten Anda. Salah satu jenis engagement yang tak kalah penting adalah berbagi atau share.

Apa itu Online Engagement?

Sederhananya, online engagement adalah berbagai keterlibatan yang dilakukan audiens dengan sebuah brand melaui media online secara konsisten. Brand tersebut adalah brand yang mereka sukai, pahami, hargai, relevan, dan percayai.

Do’a dari Mereka semua

Setiap pembelajaran online saya selalu meminta respon via kolom chat. Di akhir pembelajaran sore tadi, biasanya ada yang memimpin doa. Sore ini beda, saya coba meminta 89 orang yang hadir untuk menuliskan do’a singkat, saya bilang silahkan kalian tuliskan dikolom chat sebuah do’a. Bisa do’a untuk kalian, untuk orangtua, untuk guru, untuk cita-cita kalian, untuk apapun harapan-harapan kebaikan dan kebahagian lainnya…
Hasilnya luar biasa, saya scroll untuk membaca satu persatu do’a itu, semua lengkap do’a ada di situ.

Saking takjub nya, saya hanya membaca dalam hati, namun menyebutkan nama penulis seraya mengucapkan aamiin terhadap doanya agar didengar semua.

Hingga tulisan akhir di kolom chat saya merenung sejenak, 89 kali saya mengucapkan aamiin. Luar biasa doa-doa yang keluar dari hati mereka. Tanpa sadar dengan membaca saya turut berdo’a dan mengaminkan do’a nya berharap para malaikat memantulkan kembali semua do’a mereka kepada saya.

Di akhir ternyata mereka pun melakukan hal yang sama, membaca doa-doa teman-temannya, scrolling hingga akhir. Dan ada yang berkomentar, saya suka sekali membaca doa teman-teman semua dan pembelajaran online ini.
Kembali saya meng- aamiinkan, Semoga semua doa terkabul.

Catatan
Sore 03092021

“Toxic Positivity dan Releasing Tention”

Kebanyakan dari kita memberikan saran-saran yang positif tanpa mengetahui akar permasalahannya atau selalu memberikan saran positif yang terkadang baik untuk kita pribadi tapi belum tentu baik untuk lawan bicara.
Menurut pernyataan Wood et.al (2009) dalam jurnalnya Psychological Science menyatakan bahwa memberikan kata-kata positif ke lawan bicara yang sedang terkena masalah dapat membuat lawan bicara merasa tidak dihargai dan dinilai sebagai sikap meremehkannya.
Lalu bagaimana sebaiknya? Biarkan emosi negatif itu terilis dengan baik. Setelah habis, barulah kita ajak mereka untuk bangkit.
Dalam konsep TRE (yg sudah saya coba dan saya praktikan), Releasing Tention – Melepaskan tekanan/ketegangan akibat sebuah masalah akan menjadi kunci pembuka sebelum menerima input positif yang bisa diberikan oleh orang lain atau diri sendiri.
Self healing akan efektif dirasakan ketika kita menyadari terlebih dahulu tentang apa yang kita alami, lalu melepaskan tekanan.
saya sendiri mempelajari dari berbagai sumber, menemukan ada 5 cara diantara adalah :
Releasing Tention bisa dilakukan dengan 5 cara:

  1. Shaking your body — pernah saya coba dan bagus sekali
  2. Crying – Menangis
  3. shouted – Teriak keras
  4. Laugh – Tertawa lepas
    Dan dalam Islam releasing tention justeru bisa memadukan diantaranya, ketika kita melakukan muhasabah, menyadari kekurangan, kesalahan dan memohon ampun diiringi dengan tangisan dan guncangan tubuh yang keras diserta dengan sikap keberserahan kita kepadaNya maka akan merelease/melepas semua beban yang ada menjadikan tubuh dan terutama pikiran menjadi tenang.

Tentang Keutamaan Adab daripada Ilmu


Saya masih panasaran dengan buku yang saya baca pekan lalu mengenai Adab lebih utama daripada ilmu, lalu ternyata saya menemukan banyak sekali riwayat dari para sahabat dan para ulama tentang keutamaan adab dari pada ilmu. Sepertinya saya mungkin salah satu dari murid yang dulu pernah menertawai kekurangan dari guru saya. Tidak ada manusia yang sempurna termasuk para guru dan ulama. Namun dalam Islam keluhuran budi pekerti dan akhlaq adalah lebih utama, sebab bisa jadi ilmu duniawi kita banyak, sekolah dan pendidikan kita tinggi, tanpa ada, budi pekerti dan akhlaq maka semua apa yang kita pelajari tidak ada artinya lagi.

Selepas membaca ini saya memohon ampun kepada Allah SWT jika saya pernah menertawai kekurangan para guru yang telah banyak mengajar mendidik dan membimbing saya. Saya takut jika ilmu yang saya dapat selama ini menjadi tidak barokah dalam keseharian saya.

Berikut ini beberapa kutipan para ulama mengenai Keutamaan Adab daripada Ilmu.
1. Imam Malik rahimahullah pernah berkata pada seorang pemuda Quraisy, “Pelajarilah adab sebelum mempelajari suatu ilmu.”
2. Seorang ulama, Yusuf bin Al Husain berkata, “Dengan mempelajari adab, maka engkau jadi mudah memahami ilmu.”
3. Seorang Guru penulis, Syaikh Sholeh Al ‘Ushoimi berkata, “Dengan memperhatikan adab maka akan mudah meraih ilmu. Sedikit perhatian pada adab, maka ilmu akan disia-siakan.”
4. Oleh karenanya, para ulama sangat perhatian sekali mempelajarinya. Ibnul Mubarok berkata “Kami mempelajari masalah adab itu selama 30 tahun sedangkan kami mempelajari ilmu selama 20 tahun.”
5. Ibnu Sirin berkata,“Mereka -para ulama- dahulu mempelajari petunjuk (adab) sebagaimana mereka menguasai suatu ilmu.”
6. Makhlad bin Al Husain berkata pada Ibnul Mubarok, “Kami lebih butuh dalam mempelajari adab daripada banyak menguasai hadits.” Ini yang terjadi di zaman beliau, tentu di zaman kita ini adab dan akhlak seharusnya lebih serius dipelajari.
7. Dalam Siyar A’lamin Nubala’ karya Adz Dzahabi disebutkan bahwa ‘Abdullah bin Wahab berkata, “Yang kami nukil dari (Imam) Malik lebih banyak dalam hal adab dibanding ilmunya.”
8. Imam Malik juga pernah berkata, “Dulu ibuku menyuruhku untuk duduk bermajelis dengan Robi’ah Ibnu Abi ‘Abdirrahman -seorang fakih di kota Madinah di masanya-. Ibuku berkata, “Pelajarilah adab darinya sebelum mengambil ilmunya.”
9. Imam Abu Hanifah lebih senang mempelajari kisah-kisah para ulama dibanding menguasai bab fiqih. Karena dari situ beliau banyak mempelajari adab, itulah yang kurang dari kita saat ini.
10. Imam Abu Hanifah berkata,“Kisah-kisah para ulama dan duduk bersama mereka lebih aku sukai daripada menguasai beberapa bab fiqih. Karena dalam kisah mereka diajarkan berbagai adab dan akhlaq luhur mereka.” (Al Madkhol, 1: 164)
11. Di antara yang mesti kita perhatikan adalah dalam hal pembicaraan, yaitu menjaga lisan. Luruskanlah lisan kita untuk berkata yang baik, santun dan bermanfaat. ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz berkata, “Siapa yang menghitung-hitung perkataannya dibanding amalnya, tentu ia akan sedikit bicara kecuali dalam hal yang bermanfaat” Kata Ibnu Rajab, “Benarlah kata beliau. Kebanyakan manusia tidak menghitung perkataannya dari amalannya” (Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam, 1: 291).
Yang kita saksikan di tengah-tengah kita, kita lebih banyak “Talk more, do less (banyak bicara, sedikit amalan)”. Astagfirullah…

~Ruang kelas kosong 24102019~

Perang Hoax di Era Arus media cepat

Hoax sudah menjadi makanan keseharian, mengapa? Karena hoax ada akibat adanya kepentingan suatu pihak. Perang Hoax di Era Arus media cepat sangat memungkinkan terjadi sebagai sebuah sarana perperang opini.

Tahukan anda bahwa Hoax itu:
1. *Dapat dibuat oleh pihak ketiga* yang mempunyai kepentingan khusus, bisa memang untuk memecah belah dan mengambil keuntungan dari kindisi tersebut.

2. *Dapat dibuat oleh lawan politik* strategi ini sengaja sebagai media propaganda untuk memojokan lawan. Logika berita itu jika menguntungkan suatu pihak, maka pihat tersebut akan viral meneruskan broadcast nya kepada siapapun, padahal itu lah yang diinginkan oleh si pembuat. Suatu saat akan memojokan si penyebar info, dan si pembuat mengambil keuntungan dari kejadian tersebut.

3. *Dapat dibuat oleh pihak yang memang bertujuan menyerang.* Sejarah mencata Psi war (Psicologhy War)/perang psikologi/perang urat syaraf/perang isi telah terjadi dari zaman dahulu, ketika perang dunia terjadi, ketika blok barat dan tikur berseteru, ketika Amerika dan Rusia berkonflik, maka berang ini terjadi. Dan tidak jarang pola menyetir isu dilakukan secara masuf dengan menggunakan media masa yang pro.

Perlu diketahui, secara umum sebuah organisasi resmi melembaga pasti tidak mungkin menggunakan cara kotor dengan menyebar berita hoax, tapi bukan tidak mungkin juka person yang membuat dan membentuk satuan atau unit khusus untuk melakukan operasi tersebut. Dan itu bisa siapa saja karena sangat mudah.

Dari uraian diatas kiranya perlu kita berhati-hati untuk menyebarkan berita, sebab bisa jadi berita yang kita sebarkan tidak valid baik sumber maupun kebenarannya.

Dilain pihak ada juga orang yang menghakimi orang lain yang kedapatan menyebarkan hoax, meskipun si penyebar adalah “korban” juga. Sehingga penting kiranya untuk saling mengingatkan. Sebab sasaran si pembuat hoax adalah si penyebar berita dan juga orang yang turut serta “menghakimi” si penyebar berita. Klop jika itu terjadi.

Selamat belajar baraya semua.

Salam,
Kamis nyunda _ Agus Nugroho

Me

KSA KBB

my topics

my files

Blog Stats

  • 506.942 hits

My Photos gallery