//
archives

Kiat Bisnis

This category contains 15 posts

Berlatih berfikir seperti P E T A

oleh : Agus Nugrgoho

Sebenarnya jika dilihat dari segi barang mungkin hanya secarik kertas tipis dengan gambar garis serta tulisan-tulisan nama tempat atau daerah. Namun dengan peta yang lebih penting bukanlah bentuk atau warna yang ada padanya, tetapi tentang bagaimana kita bisa memahami peta tersebut.
Saya hanya ingin mengungkapkan saja tentang apa yang terasa oleh kita manakala keita melihat peta untuk kemudian menjadikannya pelajaran tentang bagaimana pola fikir kita bisa ‘berubah’.
Bayangkan ketika kita melihat sebuah peta, kita bukan hanya melihat sebuah bentuk dan garis yang berwarna-warni. Lebih dari itu khayalan kita akan menerawang membayangkan tentang bagaimana wilayah secara fisik membentang dari ujung barat ke timur, dari utara keselatan dan begitu pula dalam setiap pasangan arah lainnya. Kita akan memaknai setiap garis dan warna yang ada pada peta tersebut sesuai dengan keterangan yang ada pada peta tersebut.
Bagaimana jika kita berlatih fokus seperti halnya peta tersebut. Misalnya fikirkan tentang bagaimana potensi binis yang ada disetiap daerah. Bagaimana kelompok manusia pada setiap daerah tersebut, pekerjaannya, perekonomiannya. Bagaimana kebutuhan pokok mereka?. Apa yang sangat dibutuhkan dari masyarakat di daerah tersebut dilihat dari 9 kebutuhan barang pokok. Dan seterusnya anda akan terus meperoleh aliran data dengan sendirinya. Tinggal anda menuliskannya pada catatan anda dan selamat! Anda telah memiliki database sederhana tentang potensi bisnis yang ada didaerah tersebut.

Contoh berlatih lain dengan metode P E T A
Ketika kita melihat peta misalkan peta kota bandung, maka dibenak kita bukan hanya sekedar bagaimana gambar garis dan warna yang ada pada peta, lebih dari itu ingatan kita biasanya akan menerawang liar memberikan kilasan potret-potret tentang kota Bandung. Mungkin tentang sejarahnya tentang gedung-gedung tinggi, tentang jalan-jalan raya yang ada, tentang gedung-gedung bersejarah dan mungkin masih banyak lagi kilasan potret-potret lainnya lainnya tentang kota bandung. Itu yang terjadi manakala kita melihat peta dengan tujuan yang tidak terlalu fokus.
Bayangkan jika kita melihat peta tersebut dari kacamata bisnis. Kita akan melihat banyak hal pula. Namun kali ini lebih spesifik. Munkin dalam benak kita kan terbayang tentang gedung-gedung yang menjadi sentra bisnis barang tertentu, jalanan yang ramai dengan aktivitas perdagangan, kawasan para pedagang yang menjual barang mewah dan mahal, atau kawasan yang menjual barang yang kualitasnya lumayan bagus namun dengan harga yang murah. Gambaran tempat itu mungkin hanya sebagian kecil dari fikiran kita. Selebihnya mungkin masih banyak yang kita fikirkan terkait dengan kata kunci ’bisnis’.
Zoom
Sekarang bagaimana jika kita zoom fikiran kita pada bagian yang lebih kecil lagi dalam mengarahkan fokus kita. Misalnya kita ingin mencari buku!. Maka kita fikiran kita akan menerawang pada tempat yang lebih spesifik lagi yaitu ’tempat berjualan buku’. Bagaimana fikiran kita sekarang?
Sekarang kilasan-kilasan potret dalam benak kita akan lebih fokus memberikan jawaban serta gambaran langsung. Toko-toko buku di pusat perbelanjaan, pedagang emperan yang menjual buku bekas, atau kawasan yang menjual buku baru dengan harga yang murah, misalnya kawasan Palasari. Pakah cukup?. Bisa ya atau tidak karena hal ini tergantung dari kebuthan kita tentang buku apa yang kita cari. Buku luar yang berkualitas, buku sekedar pengantar pemahaman sebuah topik atau buku yang lainnya. Selesai?. Saya fikir sampai disini cukup. Tinggal kita memutuskan. Beli buku apa dan pergi kemana?.

Mengalahkan rasa malu (Bagian I)

Oleh : Agus Nugroho

Ini mungkin pengalaman menarik saya. Dahulu dalam sebuah training motivasi, waktu itu saya diminta mengumpulkan semua uang termasuk dompet saya di meja pemateri. Awalnya saya bingung… Mau apa dan kenapa?
Pertanyaan itu akhirnya terjawab setelah si pemateri memberikan tugas pada masing-masing peserta untuk menjual 3 batang coklat untuk dijual disekitar tempat training dalam waktu 15 menit. Coklat itu harus terjual habis. Jika tidak… reward or punishmen?. Waktu itu semua peserta berhamburan keluar ruangan ingin segera menjual coklat yang masing-masing mereka bawa. Namun ternyata jika diamati, semuanya ternyata berlari dengan gugup danwajah yang tampak bingung…. termasuk saya juga .
Kenapa karena tidak tahu apa yang segera dilakukan. Difikiran hanya satu, coklat terjual. Tapi bagaimana? kepada siapa? Dimana?. Namun inti dari kesemuanya adalah rasa ’gengsi’ dan ’malu’.
Semua pertanyaan dan rasa itu bercampur aduk dengan cepat. Walhasil keringat dingin bercucuran.
1. Ada yang mengemis-ngemis untuk mau membeli coklatnya dan dengan jujur mengatakan bahwa dirinya tengah di training.
2. Ada yang mencari temannya untuk dipinjami uang senilai harga 3 buah coklat tersebut.
3. Ada yang dengan rajin meyakinkan pembeli dengan melakukan presentasi tentang coklat tersebut kepada setiap orang.
4. Saya?? Waktu itu bingung dan hanya mengikuti teman. Dan akhirnya berhasil menual di menit ke 20an.
Namun yang unik adalah apa yang dilakukan oleh teman saya yang telah terbiasa berjualan.
 Pertama dia mengamati target yang akan menjadi sasaran.
 Dia menghampiri target dan melakukan opening dengan sapaan yang Sopan. Maaf bolehkah saya menganggu sebentar?.
 Ketika si target mengangguk, teman saya langsung melakukan presentasi. Entah apa yang dia fikirkan sebelumnya, yang jelas dia bisa menjelaskan produk coklat tersebut dengan menarik. Dan closing. 3 coklat dalam waktu 8 menit.

Apa yang terjadi dari cerita diatas sebenarnya dikarenakan.
Gengsi
Kondisi ini terjadi karena berjualan merupakan kegiatan yang sangat merendahkan kehormatan anda. Beda jika kita melakukan aktivitas yang dapat meningkatkan penghargaan diri oleh orang lain. Hasilnya kita malu. Dan ketika rasa ini ada, maka akan menghambat langkah anda. Akan menghambat mulut anda untuk berbicara. Dan tentunya akan menghambat mental anda untuk memenangkan perjuangan ini.

Tidak berpengalaman
Tanpa pengalaman kita tidak akan bisa bergerak dengan reflek dalam memahami situasi yang ada. Orang bisa karena terbiasa. Kita bisa karena sering melakukan. Sesuatu untuk berhasil membutuhkan latihan. Dan begitu pula dengan sukses dalam berjualan. Butuh pengalaman, butuh jam terbang, butuh memahami secara langsung bagaimana proses bisnis anda berlangsung.

Untuk itu, buang rasa malu anda, berfikir jernih dan bertindaklah dengan tenang. Fahami kondisi dengan seksama. Selamat mencoba.

(Semua artikel yang ada di Blogs ini bebas untuk dikutip dan diperperbanyak tulisan dengan tetap mencantumkan nama penulis)

“Taswir dan Moment Bisnis”

Oleh Agus Nugroho

Anda pasti bertanya apakah taswir itu?. Apak metode bisnis?, Strategi penjualan? atau sebuah istilah bisnis dalam Islam?
 haha .. semuanya salah. Awal judul tulisan diatas adalah….
Waktu itu saya tengah duduk beristirahat sehabis nonton karnaval 17 Agustusan. Saya duduk dipinggir jalan bersebelahan dengan seorang penjual mainan anak yang juga sedang beristirahat dibawah sebuah pohon rindang.
Karnaval telah selesai, tanpa sengaja saya melihat catatan pada selembar kertas yang dipegang oleh si penjual tersebut.
“Apa itu mang? “ saya bertanya. ”Taswir Mas”. Jawabnya.
Saya bingung 🙂 mungkin juga seperti anda yang bingung ketika membaca judul tulisan ini hahaha 🙂 ”Taswir??,
“Ooo maksud saya kertas secewir Mas”. Saya hanya tertawa. (secewir artinya dalam bahasa sunda selembar). Nulis apa mang?. Ah belajar nyatet aja mas. Ini catatan agenda kegiatan jualan mas. Agenda jualan?? Apa Isinya.
Saya waktu itu agak canggung juga waktu meminta kertas itu untuk dilihat. Si Penjual tadinya terlihat ragu mau memperlihatkannya kepada saya. Dikiranya saya adalah saingannya dalam berjualan. Tapi mungkin setelah melihat tampang dan penampilan saya yang keren abizz =)) ^_^, dia menyodorkan kertas itu kepada saya itu untuk dilihat.
Wuiihh…. luar biasa, walaupun catatan tersebut tampak tidak beraturan, hanya tulisan tangan yang tidak rapih tapi saya bisa memahami makna dari tulisan tersebut. Catatan tersebut ternyata berisi agenda kegiatan memperingati 17 agustusan diberbagai tempat disekitar kecamatan tempat saya tinggal. Walapun tanpa dituliskan secara lebih detail, saya bisa tahu kalau si pedagang mainan anak tersebut telah membuat planning dalam berjualan selama rentang waktu perayaan HUT RI.
Dengan itu dia dapat memprediksi berapa jumlah barang yang akan dia jual? Dimana barang akan dijual. Dia tinggal datang ke tempat dimana ada konsentrasi massa (khususnya anak kecil).
Mungkin dari cerita diatas ada satu pelajaran berharga dalam berbisnis. Kita dapat memprediksi tentang:
 Kapan dan dimana barang akan dijual?
 Berapa banyak barang yang akan terjual?
 Berapa keuntungan pada moment kegiatan tersebut?
 Dan bisa jadi, bagaimana teknik memasarkannya?
Nah bagi anda yang akan memulai bisnis, mulailah belajar mencermati aktifitas bisnis anda, masih banyak aktifitas tahunan lainnya yang berpotensi adanya pengumpulan massa. Selamat mencoba.
(Semua artikel yang ada di Blogs ini bebas untuk dikutip dan diperperbanyak tulisan dengan tetap mencantumkan nama penulis)

Me

KSA KBB

my topics

my files

Blog Stats

  • 509.496 hits

My Photos gallery