//
archives

Pendidikan

This category contains 9 posts

Peningkatan Kecerdasan Literasi Digital sebagai upaya untuk Menangkal Berita Hoax

Tugas orangtua adalah menyiapkan anak menghadapi zamannya. Kita sebagai orangtua harus menyiapkan diri untuk membimbing anak dalam menghadapi era digital saat ini.

Agus Nugroho S.Pd, MT

Guru Rekayasa Perangkat Lunak SMK Negeri 1 Cimahi

antihoax

Foto: Sumber Antaranews.com

Era Arus Tsunami Informasi

Perkembangan Teknologi informasi dan media sosial memudahkan kita untuk berkomunikasi dengan cepat. Media sosial menjadi peranan penting dalam mendistribusikan sebuah informasi. Generasi digital mempunyai karakteristik dimana mereka aktif dalam media sosial seperti facebook, twitter, path, instagram, youtube, dan lain-lain. Generasi ini mempunyai sikap yang cenderung lebih terbuka, blak-blakan, serta berfikir lebih kritis dan agresif. Mereka memilih berekspresi bebas di sosial media dan tidak menyukai jika harus diatur atau dikekang. Media komunikasi seperti handphone, tablet dan smart komputer lainnya menjadi teman keseharian mereka, secara fisik mereka akan tampak autis dan menyendiri, namun kenyataannya pikiran mereka tengah berjalan menelusuri sisi kehidupan baru yang disebut dengan dunia maya.

Baca lebih lanjut

Iklan

What do you think?

what-do-you-think-asian-businessman-write-text-wall-48839751

Hari ini saya mendapatkan keyword baru yaitu “What do you think?”, salah seorang rekan baru dalam FGD dikdas Kemdiknas (DR.Suud Karim) bercerita, ketika dia berkunjung ke salah satu sekolah dasar di Eropa dan berkesempatan masuk kelas, salah seorang siswa dikelas itu bertanya kepada rekan saya tersebut dengan pertanyaan,

“Where do you come from?”

Rekan saya sebenarnya menjawab sederhana, “What do you think?“.

Jawaban sekaligus pertanyaan sederhana tersebut ternyata kemudian mengundang kepenasaran dari anak-anak yang ada dikelas tersebut. Rekan saya berlalu dari kelas tersebut, sementara anak-anak yang ditinggalkan sibuk berdiskusi dengan temannnya tentang dari masa asal rekan saya tersebut.

Mereka berdiskusi, mengeluarkan peta, mencari data dari internet tentang kemungkinan asal negara rekan saya. Ketika rekan saya lewat kembali ke kelas tersebut, anak-anak ramai memanggilnya. Salah satunya kurang lebih mereka berkata,

“DR. Karim, I know where you come from, you are form asia. Indonesia is your country, near of philiphina, thailand and singapore”.

Baca lebih lanjut

Hidup Benar dari Jam ke Jam

Habis Sholat Isya ,seorang Gadis kecil mendatangi kepada ayahnya yang
belum selesai sholat sunnah.Setelah mengucapkan salam, Sang ayah
menatap anaknya.
“ada Apa Nak ? ”
“Apakah kita bisa hidup tidak berdosa selama hidup kita?”.

Ayahnya memandang kepada anak kecil itu dan berkata,
“Tidak, nak. Manusia sering melakukan kekhilafan secara sadar maupun
tidak. Itulah kenapa kita diperintahkan memohon ampun kepada Alloh
setiap hari”.

Putri kecil ini kemudian memandang ayahnya dan berkata lagi,
“Apakah kita bisa hidup tanpa berdosa dalam setahun?”
Baca lebih lanjut

Kita, Pemilu serta Negara Aku (Bagian I)

Benar kiranya ketika ada yang mengatakan, kita memang kaya dengan ide, namun sedikit orang yang mau meujudkan ide tersebut. Kita memang pandai mendirikan organisasi namun kita tidak pandai untuk merawatnya. Kita memang rajin untuk mengkritik orang, namun sedikit yang mengintropeksi diri untuk bisa lebih baik.
Kita terkadang berbicara lantang, namun kemudian sembunyi ketika lawan secara jantan turun kelapangan. Ide kita banyak dan cita-cita kita besar, namun sayang kita terkadang tidak mau turut dalam barisan yang mencoba mewujudkan ide dan gagasan kita sendiri.
Bangsa ini terdiri dari beragam suku, beragam warna kulit dan beragam budaya, dan kita bangga dengan slogan Bhineka Tunggal Ika.
Pemilu tinggal beberapa hari didepan mata kita, sesaat kita renungi mungkin inilah moment besar yang mencoba meminta segenap penduduk negeri ini untuk ‘diminta pendapatnya’ tentang siapa yang akan menjadi para pemimpin di negeri ini.
Namun sayang, biaya yang mahal untuk membuat sebuah pesta besar bagi warganya ini tidak serta merta disambut baik oleh warganya. Ada yang mencemooh ada juga yang acuh tak acuh. Negeri ini kaya raya, namun tak sekaya warganya yang dengan semangat mau mengikuti Pemilu sebagai sara ‘diskusi akbar’ bagi segenap penduduknya.
Negeri ini mempunyai banyak orang yang cerdas, namun banyak pula orang yang cerdas sekelas profesor yang menggiring masyarakatnya untuk golput. Bukan mencerdaskan mereka, bukan menyadarkan mereka, bukan mendidik mereka. Bukankah sang profesor di didik agar dia bermanfaat untuk bangsa ini??. Ah kapan bangsa ini akan besar dan dewasa. Bukankah kita telah merdeka selama 50 tahun lebih, dimana kita bebas menentukan nasibnya sendiri.
Suatu ketika kita kerap berteriak, kenapa kita tidak pernah diajak diskusi??, kenapa saya tidak dimintai pendapat??, Kenapa penguasa bertindak bak tiran?, kenapa pendapat saya tidak diakomodir?
Ah begitu mudahnya kita terkadang mengkritik dan menghardik, ketika pertanyaan tersebut kita balikan terhadap diri kita sendiri, Sejauh mana kontribusi kita terhadap pembangunan negeri ini? Atau memang kita merasa negera ini bukan INDONESIA tapi NEGARA AKU!

50 Persen Kepala Dinas Pendidikan Dijabat Tim Sukses Bupati

Jakarta – Banyak kepala dinas pendidikan di daerah-daerah ternyata tidak punya kapasitas
yang mumpuni. Terbukti, 50 persen jabatan itu diduduki oleh tim sukses bupati dan walikota.

“Di beberapa daerah, lebih dari 50 persen yang menjadi Kepala Dinas Pendidikan adalah tim sukses bupati dan walikota,” kata Ketua Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Sulistyo.
Keluhan itu dilontarkan Sulistyo dalam jumpa pers usai bertemu dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) di Kantor Presiden, Jalan Medan Merdeka Utara, Jakarta, Selasa (20/1/2009).
Yang memprihatinkan, menurut Sulistyo, banyak Kepala Dinas Pendidikan
ternyata berasal dari profesi-profesi lain seperti Kepala Satpol PP, Kepala Dinas Tata Kota dan Pertamanan, bahkan Kepala Dinas Pemakaman. Baca lebih lanjut

Guru Honorer, Oh Nasibmu…

Jakarta – Pernahkah terbayangkan di benak kita memperoleh gaji kurang dari Rp 100 ribu perbulan? Dalam negeri yang anggaran pendidikannya 20 persen dari total APBN ternyata kondisi tersebut masih ada. Seorang guru, yang tiada lelah memberikan pengajaran keilmuan serta budi pekerti hanya dihargai dengan Goban (Rp 50 ribu) saja…

Hal inilah yang dikeluhkan oleh Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI). Di hadapan kepala negara, mereka pun mencoba memperjuangkan nasib para guru bantu yang tidak jelas masa depannya itu.

“Masih banyak guru bantu yang gajinya di bawah Rp 100 ribu perbulan,” ujar Ketua Umum PGRI Sulistyo usai bertemu dengan Presiden SBY di Kantor Presiden, Jl Medan Merdeka Utara, Jakarta, Selasa (20/1/2008). Baca lebih lanjut

Me

KSA KBB

my topics

my files

Blog Stats

  • 424,917 hits

My Photos gallery