//
archives

Pendidikan

This category contains 13 posts

Hidup Benar dari Jam ke Jam

Habis Sholat Isya ,seorang Gadis kecil mendatangi kepada ayahnya yang
belum selesai sholat sunnah.Setelah mengucapkan salam, Sang ayah
menatap anaknya.
“ada Apa Nak ? ”
“Apakah kita bisa hidup tidak berdosa selama hidup kita?”.

Ayahnya memandang kepada anak kecil itu dan berkata,
“Tidak, nak. Manusia sering melakukan kekhilafan secara sadar maupun
tidak. Itulah kenapa kita diperintahkan memohon ampun kepada Alloh
setiap hari”.

Putri kecil ini kemudian memandang ayahnya dan berkata lagi,
“Apakah kita bisa hidup tanpa berdosa dalam setahun?”
Baca lebih lanjut

Iklan

Kita, Pemilu serta Negara Aku (Bagian I)

Benar kiranya ketika ada yang mengatakan, kita memang kaya dengan ide, namun sedikit orang yang mau meujudkan ide tersebut. Kita memang pandai mendirikan organisasi namun kita tidak pandai untuk merawatnya. Kita memang rajin untuk mengkritik orang, namun sedikit yang mengintropeksi diri untuk bisa lebih baik.
Kita terkadang berbicara lantang, namun kemudian sembunyi ketika lawan secara jantan turun kelapangan. Ide kita banyak dan cita-cita kita besar, namun sayang kita terkadang tidak mau turut dalam barisan yang mencoba mewujudkan ide dan gagasan kita sendiri.
Bangsa ini terdiri dari beragam suku, beragam warna kulit dan beragam budaya, dan kita bangga dengan slogan Bhineka Tunggal Ika.
Pemilu tinggal beberapa hari didepan mata kita, sesaat kita renungi mungkin inilah moment besar yang mencoba meminta segenap penduduk negeri ini untuk ‘diminta pendapatnya’ tentang siapa yang akan menjadi para pemimpin di negeri ini.
Namun sayang, biaya yang mahal untuk membuat sebuah pesta besar bagi warganya ini tidak serta merta disambut baik oleh warganya. Ada yang mencemooh ada juga yang acuh tak acuh. Negeri ini kaya raya, namun tak sekaya warganya yang dengan semangat mau mengikuti Pemilu sebagai sara ‘diskusi akbar’ bagi segenap penduduknya.
Negeri ini mempunyai banyak orang yang cerdas, namun banyak pula orang yang cerdas sekelas profesor yang menggiring masyarakatnya untuk golput. Bukan mencerdaskan mereka, bukan menyadarkan mereka, bukan mendidik mereka. Bukankah sang profesor di didik agar dia bermanfaat untuk bangsa ini??. Ah kapan bangsa ini akan besar dan dewasa. Bukankah kita telah merdeka selama 50 tahun lebih, dimana kita bebas menentukan nasibnya sendiri.
Suatu ketika kita kerap berteriak, kenapa kita tidak pernah diajak diskusi??, kenapa saya tidak dimintai pendapat??, Kenapa penguasa bertindak bak tiran?, kenapa pendapat saya tidak diakomodir?
Ah begitu mudahnya kita terkadang mengkritik dan menghardik, ketika pertanyaan tersebut kita balikan terhadap diri kita sendiri, Sejauh mana kontribusi kita terhadap pembangunan negeri ini? Atau memang kita merasa negera ini bukan INDONESIA tapi NEGARA AKU!

50 Persen Kepala Dinas Pendidikan Dijabat Tim Sukses Bupati

Jakarta – Banyak kepala dinas pendidikan di daerah-daerah ternyata tidak punya kapasitas
yang mumpuni. Terbukti, 50 persen jabatan itu diduduki oleh tim sukses bupati dan walikota.

“Di beberapa daerah, lebih dari 50 persen yang menjadi Kepala Dinas Pendidikan adalah tim sukses bupati dan walikota,” kata Ketua Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Sulistyo.
Keluhan itu dilontarkan Sulistyo dalam jumpa pers usai bertemu dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) di Kantor Presiden, Jalan Medan Merdeka Utara, Jakarta, Selasa (20/1/2009).
Yang memprihatinkan, menurut Sulistyo, banyak Kepala Dinas Pendidikan
ternyata berasal dari profesi-profesi lain seperti Kepala Satpol PP, Kepala Dinas Tata Kota dan Pertamanan, bahkan Kepala Dinas Pemakaman. Baca lebih lanjut

Guru Honorer, Oh Nasibmu…

Jakarta – Pernahkah terbayangkan di benak kita memperoleh gaji kurang dari Rp 100 ribu perbulan? Dalam negeri yang anggaran pendidikannya 20 persen dari total APBN ternyata kondisi tersebut masih ada. Seorang guru, yang tiada lelah memberikan pengajaran keilmuan serta budi pekerti hanya dihargai dengan Goban (Rp 50 ribu) saja…

Hal inilah yang dikeluhkan oleh Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI). Di hadapan kepala negara, mereka pun mencoba memperjuangkan nasib para guru bantu yang tidak jelas masa depannya itu.

“Masih banyak guru bantu yang gajinya di bawah Rp 100 ribu perbulan,” ujar Ketua Umum PGRI Sulistyo usai bertemu dengan Presiden SBY di Kantor Presiden, Jl Medan Merdeka Utara, Jakarta, Selasa (20/1/2008). Baca lebih lanjut

Aku dan sekolah ku..

Sebetulnya diawal suka terlintas bahwa anak-anak pada usia remaja (SMK/SMU) memang anak-anak yang masih ingin tahu banyak hal sehingga mereka kesannya nakal dan urakan. Mereka seolah hanya menganggap sekolah hanya sebagai tempat bermain. Riang tanpa ada masalah.
Namun ternyata berbeda dari cerita yang saya dengar. Ada beberapa anak yang memeng merasa betah disekolah karena mereka menghindari masalah yang ada di antar a orang tua mereka, mereka yang lari dari rumah karena orang tua mereka ternya tidak akur alias sering berantem dan ada beberapa yang memang dalam suasana perceraian.
Lain lagi cerita ketika beberapa siswa yang ternyata untuk pergi ke sekolah merasa sangat berat sekali. Ini diakibatkan karena himpitan ekonomi yang mengakibatkan pembiayaan sekolah tersendat. Ada untuk bayar SPP, tidak ada untuk biaya praktek. Ada untuk SPP, tp tidak ada untuk ongkos dan jajan.
phyuuuhh setiap orang memang mempunyai masalah, dan setiap masalah semoga selalu ada solusinya. Mudah-mudahan waktu yang berjalan akan terus menjawab setiap permasalahan yang ada.
“Kamu harus lebih pintar dari saya”

PNS yang Gajinya GEDE

Seperti yang saya tulis diawal ketika orang mempersepsikan bahwa sukses adalah dengan parameter ada uang banyak, ada rumah mewah, ada kendaraan bagus, dan ada gaji yang besar. Saya sejenak termenung, kalau saya PNS apakah saya bias seperti itu?
Suatu ketika saya bertemu seseorang dan mengatakan, “jadi PNS itu jangan khawatir, bias hidup. Tapi ga bias kaya”. Saya tersenyum. Begitulah ketika mereka memahami sukses dari sisi materi. Sebenarnya bagi saya sukses adalah ketika saya bias mengajar dengan tenang dan benar. Membuat siswa saya mengerti akan ilmu yang dipelajari dan sukses.
Namun berbagai persepsi orang tentang sukses membuat saya termotivasi untuk membuktikan semua ilmu yang sudah saya dapat. I’m a teacher and I’m a success person. Kenapa tidak saya bisa mempunyai pendapatan lain dari kemampuan saya yang lain. Toh itu halal selama saya tidak meninggalkan tugas saya sebagai guru.
Lalu bagaimana tentang guru harus fokus dengan pelajarannya. Tergantung, jika manajemen waktunya bagus mungkin saya bisa. Yang jelas saya hanya ingin membuktikan bahwa saya pun berhak untuk sukses, dan bukan karena saya adalah PNS. Otak kita telah diberikan sebagi bekal untuk hidup, space dalam ruang otak kita masih banyak.
Yang jelas langkah saya (sedang) merintis bisnis ini bukan merupakan kekecewaan akan gaji saya saat ini. Tapi ‘sebuah pembuktian’, sehingga saya bias bercerita kepada anak-anak yang saya ajar.
Sukses adalah hak setiap orang

Me

KSA KBB

my topics

my files

Blog Stats

  • 486.939 hits
Iklan