//
archives

Renungan

This category contains 43 posts

Tentang Keutamaan Adab daripada Ilmu


Saya masih panasaran dengan buku yang saya baca pekan lalu mengenai Adab lebih utama daripada ilmu, lalu ternyata saya menemukan banyak sekali riwayat dari para sahabat dan para ulama tentang keutamaan adab dari pada ilmu. Sepertinya saya mungkin salah satu dari murid yang dulu pernah menertawai kekurangan dari guru saya. Tidak ada manusia yang sempurna termasuk para guru dan ulama. Namun dalam Islam keluhuran budi pekerti dan akhlaq adalah lebih utama, sebab bisa jadi ilmu duniawi kita banyak, sekolah dan pendidikan kita tinggi, tanpa ada, budi pekerti dan akhlaq maka semua apa yang kita pelajari tidak ada artinya lagi.

Selepas membaca ini saya memohon ampun kepada Allah SWT jika saya pernah menertawai kekurangan para guru yang telah banyak mengajar mendidik dan membimbing saya. Saya takut jika ilmu yang saya dapat selama ini menjadi tidak barokah dalam keseharian saya.

Berikut ini beberapa kutipan para ulama mengenai Keutamaan Adab daripada Ilmu.
1. Imam Malik rahimahullah pernah berkata pada seorang pemuda Quraisy, “Pelajarilah adab sebelum mempelajari suatu ilmu.”
2. Seorang ulama, Yusuf bin Al Husain berkata, “Dengan mempelajari adab, maka engkau jadi mudah memahami ilmu.”
3. Seorang Guru penulis, Syaikh Sholeh Al ‘Ushoimi berkata, “Dengan memperhatikan adab maka akan mudah meraih ilmu. Sedikit perhatian pada adab, maka ilmu akan disia-siakan.”
4. Oleh karenanya, para ulama sangat perhatian sekali mempelajarinya. Ibnul Mubarok berkata “Kami mempelajari masalah adab itu selama 30 tahun sedangkan kami mempelajari ilmu selama 20 tahun.”
5. Ibnu Sirin berkata,“Mereka -para ulama- dahulu mempelajari petunjuk (adab) sebagaimana mereka menguasai suatu ilmu.”
6. Makhlad bin Al Husain berkata pada Ibnul Mubarok, “Kami lebih butuh dalam mempelajari adab daripada banyak menguasai hadits.” Ini yang terjadi di zaman beliau, tentu di zaman kita ini adab dan akhlak seharusnya lebih serius dipelajari.
7. Dalam Siyar A’lamin Nubala’ karya Adz Dzahabi disebutkan bahwa ‘Abdullah bin Wahab berkata, “Yang kami nukil dari (Imam) Malik lebih banyak dalam hal adab dibanding ilmunya.”
8. Imam Malik juga pernah berkata, “Dulu ibuku menyuruhku untuk duduk bermajelis dengan Robi’ah Ibnu Abi ‘Abdirrahman -seorang fakih di kota Madinah di masanya-. Ibuku berkata, “Pelajarilah adab darinya sebelum mengambil ilmunya.”
9. Imam Abu Hanifah lebih senang mempelajari kisah-kisah para ulama dibanding menguasai bab fiqih. Karena dari situ beliau banyak mempelajari adab, itulah yang kurang dari kita saat ini.
10. Imam Abu Hanifah berkata,“Kisah-kisah para ulama dan duduk bersama mereka lebih aku sukai daripada menguasai beberapa bab fiqih. Karena dalam kisah mereka diajarkan berbagai adab dan akhlaq luhur mereka.” (Al Madkhol, 1: 164)
11. Di antara yang mesti kita perhatikan adalah dalam hal pembicaraan, yaitu menjaga lisan. Luruskanlah lisan kita untuk berkata yang baik, santun dan bermanfaat. ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz berkata, “Siapa yang menghitung-hitung perkataannya dibanding amalnya, tentu ia akan sedikit bicara kecuali dalam hal yang bermanfaat” Kata Ibnu Rajab, “Benarlah kata beliau. Kebanyakan manusia tidak menghitung perkataannya dari amalannya” (Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam, 1: 291).
Yang kita saksikan di tengah-tengah kita, kita lebih banyak “Talk more, do less (banyak bicara, sedikit amalan)”. Astagfirullah…

~Ruang kelas kosong 24102019~

Perang Hoax di Era Arus media cepat

Hoax sudah menjadi makanan keseharian, mengapa? Karena hoax ada akibat adanya kepentingan suatu pihak. Perang Hoax di Era Arus media cepat sangat memungkinkan terjadi sebagai sebuah sarana perperang opini.

Tahukan anda bahwa Hoax itu:
1. *Dapat dibuat oleh pihak ketiga* yang mempunyai kepentingan khusus, bisa memang untuk memecah belah dan mengambil keuntungan dari kindisi tersebut.

2. *Dapat dibuat oleh lawan politik* strategi ini sengaja sebagai media propaganda untuk memojokan lawan. Logika berita itu jika menguntungkan suatu pihak, maka pihat tersebut akan viral meneruskan broadcast nya kepada siapapun, padahal itu lah yang diinginkan oleh si pembuat. Suatu saat akan memojokan si penyebar info, dan si pembuat mengambil keuntungan dari kejadian tersebut.

3. *Dapat dibuat oleh pihak yang memang bertujuan menyerang.* Sejarah mencata Psi war (Psicologhy War)/perang psikologi/perang urat syaraf/perang isi telah terjadi dari zaman dahulu, ketika perang dunia terjadi, ketika blok barat dan tikur berseteru, ketika Amerika dan Rusia berkonflik, maka berang ini terjadi. Dan tidak jarang pola menyetir isu dilakukan secara masuf dengan menggunakan media masa yang pro.

Perlu diketahui, secara umum sebuah organisasi resmi melembaga pasti tidak mungkin menggunakan cara kotor dengan menyebar berita hoax, tapi bukan tidak mungkin juka person yang membuat dan membentuk satuan atau unit khusus untuk melakukan operasi tersebut. Dan itu bisa siapa saja karena sangat mudah.

Dari uraian diatas kiranya perlu kita berhati-hati untuk menyebarkan berita, sebab bisa jadi berita yang kita sebarkan tidak valid baik sumber maupun kebenarannya.

Dilain pihak ada juga orang yang menghakimi orang lain yang kedapatan menyebarkan hoax, meskipun si penyebar adalah “korban” juga. Sehingga penting kiranya untuk saling mengingatkan. Sebab sasaran si pembuat hoax adalah si penyebar berita dan juga orang yang turut serta “menghakimi” si penyebar berita. Klop jika itu terjadi.

Selamat belajar baraya semua.

Salam,
Kamis nyunda _ Agus Nugroho

Ketika kami memunguti tanginsanmu

Peganglah erat nak…
Aku tau kau telah lama ingin bertemu dengan kami
Melihat indahnya dunia ini…

Peganglah erat nak…
Allah telah menakdirkanmu singgah di bumi ini…
Semoga menjadi persinggahan kita untuk menuai amal ketika kembali kepadaNya…

Peganglah erat nak…
Dan pecahkan keheningan ini dengan tangisanmu,
Biarkan berserak menjadi keping kebahagiaan yang akan kami punguti satu persatu…

Peganglah erat nak…
Dan selamat datang didunia ini
Lalu ucapkan Assalamualaikum kepada segenap alam…

**
Bandung, 28 Juni 2018

Rohingya mengajarkan kita

pic by bbc.co.uk

Entah setan apa yang ada dikepalanya
Ribuan orang mengungsi
Ratusan orang mati
Diantara lantangnya teriakan pera pendemo dari penjuru dunia
Diantara tangisan wajah lusuh yang entah akan sampai kapan dan dimana
Diantara pekikan takbir

Aku masih bertanya
Entah setan apa yang ada dikepalanya
Ketika segelintir yang berlagak keren dan perhatian terhadap sekitar bilang
Ngapain lu demo, rakyat kita juga masih banyak yang susah
Ngapain lu nyumbang orang jauh
Musafir pun didepan rumah ada
Kenapa Sang Gubernur ikut berdemo
Sementara sungai citarum masih kotor
Atau ada juga ketua ormas yang ringan bilang, ini isu politik untuk mengguncang kepemimpinan seseorang,
Pongah dan sok keren,
Jika bukan dibilang goblok atau buta matahatinya
Masak iya tidak melihat foto dan video yang berleliweran di medsos
Lalu sok bijak menyalahkan pendemo atau orang yang berdonasi.
Jika dalam keyakinan kami
“muslim itu ibarat satu tubuh, jika bagian tubuh yang satu sakit, maka bagian tubuh lain akan merasakannya jua”

Penyataan singat dengan makna yang luar biasa, tidak tersekat oleh jarak dan wilayah.
Jika ada segelintir saja yang berpikir sempit, takut miskin, takut kurang makan. Maka seperti itulah iman mereka.

Jika tidak ada rangkaian kata penjelas yang dimengerti untuk mencari alasan mengapa kita harus membela Rohingya, maka saya akan mengutip tulisan yang biasa disampaikan ketika membela saudara kita di Palestine:
Rohingya mengajarkan kita
Tentang tentang kemanusiaan
Tidak perlu menjadi muslim untuk membela Rohingya, cukup menjadi Manusia (titik).

Nilai sebuah keteladanan

DSCN0061

Seorang ustadz berbincang dengan sesama ustadz…
Ustadz kan sudah sepuh tapi kenapa ketika halaqah tidak membiarkan para mutarobbi untuk datang saja kerumah ustadz?

Kemarin ketika jadi panitia baksos ustadz datang ketempat kegiatan, ikut menyambut masyarakat yang hadir dan akrab berbincang?

Ketika ta’limat mabit grup bulan kemarin ustadz mengajak binaan untuk mabit di masjid kampung tempat yg cukup jauh?

Dan ketika mukhoyam kemarin ana tahu ustadz lelah dan sedang tidak fit, namun tetap berangkat ikut bermalam dialam dan berjalan turun naik bukit walaupun 3/4 jalan ustadz harus ikut team kesehatan ke camp istirahat.

Baca lebih lanjut

Tentang KPK versus Polisi Jilid 3

Curcol malem, sambil ngopi.

Muak sekali nonton TV malam ini 16/02/2015 sebab jika benar apa yang saya tuliskan dibawah ini, maka sejarah mencatat seorang pemimpin yang naik ke tahta pimpinan dengan penuh akal bulus kebohongan.

Tentang #KPKvsPOLRI

1. Kita bangga mempunyai lembaga seperti KPK.
2. KPK lahir dari nafas Reformasi yg digulirkan Rakyat’98
3. Lembaga anti rasuah yg diharapkan dpt menjalankan amanat Reformasi bangsa ini.
4. Semua berharap bahwa KPK adalah lembaga yg turut menegakan keadilan.
5. Siapa yg salah jika terjadi benturan
6. Polisi adalah lembaga penegak hukum dan penjaga stabilitas negara. Pengayom masyarakat.
7. Dan KPK hanyalah lembaga Adhoc
8. Masalahnya sekarang adalah kuatnya kredibilitas KPK dibanding Polisi di mata masyarakat.
9. Wajar karena kepercayaan thdp penegakan hukum pada lembaga polisi dan lembaga level Yudikatif banyak cacat digerus kasus oleh penghuninya.
10. Bagaimanapun KPK hrs didorong ‘baik’ dan polisi sbg lembaga resmi pemerintah hrs terus dibenahi, pastinya lebih sulit, sebab disiplin dan struktur dipolisi berjenjang.
11. Masalah lain adalah masyarakat dengan bentukan opini media menganggap KPK sebagai lembaga TUHAN, tidak mungkin salah dan konyolnya di usahakan untuk kebal hukum dengan alasan menghindari kriminalisasi.
12. Azas “Semua sama dimata hukum” akan hilang jika KPK dikenakan hal tsb.
13. Sekali lagi KPK adalah lembaga yang lahir dari Nafas Reformasi ’98, namun pula bukan lembaga Dewa yg tidak mungkin berbuat salah. Baca lebih lanjut

Me

KSA KBB

my topics

my files

Blog Stats

  • 495.026 hits

My Photos gallery