//
archives

Surat Untuk Pak Dewan

This category contains 6 posts

Uang mu dan Rumah Kami

sudah berapa uang yang kau kumpulkan
terlihat menyesak disetiap saku celana, baju dan jas mu
bahkan brankas dan laci serta lemari diruanganmu tak cukup
mewadahinya
mungkin untaian nomor rekening yang terus kau tambah
sebentar lagi tak akan cukup pula menyimpannya
bagaimana denga kami
anak kami pernah dibakar hidup-hidup karena tekanan ekonomi
istri kami pernah dianiaya karena buat tak ada belanja
dan menyalakan asap di dapur
pekan lalu rumah kami pun tergusur
namun kami bersyukur kami masih punya harga diri dan kehormatan Baca lebih lanjut

Iklan

Kursi kami dan Kursi Pak Dewan

hari itu kami telah menukar suara kami
dibilik-bilik suara dikampung kami
murah memang…
hanya 1000, 5000, dan paling tinngi 50.000
untuk harga suara kami
ini bukan pilihan otak kami
namun pilihan perut kami
kami tidak ingin memilihmu
nurani kami tidak menyukaimu
namu otak kami telah buntu
hanya sekedar berharap makan untuk esok pagi… Baca lebih lanjut

rumah kami

mmmh besar sekali rumah kami
banyak sekali makanan yang tersaji di meja makan kami
TV, Kulkas dan sofa yang kami duduki indah sekali
lalu aku berjalan kehalaman rumahku
indah dan asri, sejuk dan nyaman..
kerja kami memang tidak bergaji tinggi,
namun cukup untuk hidup dengan anak dan istri
tak kala aku menoleh kebelakang
dan aku terbangun dari mimpiku…
mana janjimu dulu untuk kami…

Untuk Pak Dewan di Gedung DPR (2)

hari ini kami mempertanyakan
siapakah para pahlawan penolong kami
yang dulu mereka berjanji
suara kami sudah parau ditengah demo orang yang membayar kami
kami memang ingin semua harga turun
namun kami tak tahu kenapa dia yang mengajak kami berdemo
kini pun menghilang
menghilang sepertihalnya mereka yang berlagak menjadi pahlawan
dan mengumbar janji menghembuskan angin surga Baca lebih lanjut

Salam Hangat Kami Pak Dewan

dulu mungkin karena kebodohan kami
begitu ramai suara terdengar, begitu keras cakap keluar
mungkin karena dihadapan kami yang hanya anak tangga
tapi kini sepi…dan sepi..
tak ada suara
bahkan telunjukmu hanya menjentik tinggi manakala
kepentingan dan uang pengisi perut siap kau dapatkan

dulu kau datang berlama-lama dikedai kami
yang beromzet 5000 perhari
berjam-jam kau berbincang dengan kami
dengan buaian janji dan angin surga

hari ini mungkin jangankan suara dan sapa,
bahkan kabar dan berita jauh terdengar
mungkin engkau memang hanya memandang kami sebagai sayap
sayap yang kau lepas dan kau lempar manakala kau tlah sampai
di tempat yang tinggi
dan kami terhempas dan jatuh bahkan kau lupakan

Untuk Pak Dewan di Gedung DPR (1)

bibir kami terlalu kelu
lidah kami tidak sistematis
mungkin engkau terlalu takut
untuk sekedar duduk di bale-bale kami
takut jika baju mu ksust
dan pantalonmu koyak

Bagimu kami mungkin hanya punggung-punggung
penopang yang kau injak untuk naik
kami datanng ber mil-mil dari gubuk kami
berpanas-panas hanya sekedar untuk mendengarmu berorasi
kami senang karena mungkin kali ini kami
sesekali bisa keluar dari ladang kami
untuk sekedar berlibur dan melihat keramaian
ladang kami, kami tinggalkan,
becak dan motor butut gantungan hidup, kami kesampingkan
siang ini dalam terik matahari kami datang
tanpa kata-kata yang rumit yang biasa kau ucapkan
hanya berharap adanya perubahan nasib kami.

telinga kami memang mendengar, namun tetap tak bisa mencerna
apa bahasa yang kau sampaikan,
terlalu tinggi sepertinya
kami hanya mengerti bahasa BBM terjangkau
dan beras murah serta ongkos angkot yang murah

Me

KSA KBB

my topics

my files

Blog Stats

  • 424,917 hits

My Photos gallery