//
archives

Puisi

This tag is associated with 9 posts

Jejak-jejak Kecil Menuju Semeru

IMG_0928Tulisan-tulisan ini terkumpul pada dinginnya malam, lelahnya kaki dan pegalnya bahu, dalam perjalanan meniti setiap bukit dan jalanan setapak.

Berderet pada layar handphone tertulis huruf demi huruf, mewakili suasana hati saat terseok meniti waktu.

Sekedar membukukan ulang bersama foto yang mewakilinya, semoga ada pelajaran dari renungan kecil ini, bukan untuk berbangga, namun mencoba melunakan hati yang kerap angkuh lupa akan kuasaNya.

Mendaki bukan untuk berbangga-bangga, sebab setinggi gunung apapun yang kita daki, tetaplah, “diatas gunung ada gunung”, dan setinggi-tingginya sesuatu hanya Dia yang kuasa akan segalanya.
Mendaki adalah mendekatkan diri kepadaNya melalui ciptaanNya, bukan merupakan pelarian dan berlepas lelahnya dari menjalani hidup.

Bentangan langit biru yang luas, hijaunya alam, dinginnya malam serta hangatnya mentari pagi adalah teman untuk menempa diri, mencoba menjadi kuat dengan mendekap KuasaNya.

Dekaplah alam, sebagi teman dan shahabat, sebab dia adalah guru yang sangat berharga yang tanpa bosan akan mengajarkan kepada kita akan makna hidup dan kerasnya sebuah perjuangan.

Jejak-jejak kecil menuju Semeru
28 Desember 2013 – 3 Januari 2013

Kenapa kau langkahkan kakimu
meninggalkan rumahmu yang nyaman?
Kenapa kau tinggalkan peraduanmu dan
tarik selimut hangatmu?
Kenapa kau bersusah payah berjalan dalam
kegelapan?
Kenapa kau cari suasana sepi dan dingin?
Kenapa kau biarkan matamu banyak
terbuka menahan kantuk?
Kenapa kau biarkan dirimu lelah menahan
sakitnya kaki dan pegalnya pundakmu?
Jawabku adalah, sebab terlalu sayang
waktuku hilang untuk tidak menikmati dan
mensyukuri betapa besar ciptaanNya.

Sebuah keheningan yang mendekatkan ku kepadaNya, disini..diatas tanah yg kupijakan ini.

Bukanlah gunung tinggi yg telah kau takhlukan, manakala kakimu perpijak ditanah yang paling tinggi.
Namun dirimulah yg telah kau takhlukan.
Kau takhlukan ketakutanmu…
kau takhlukan rasa lelahmu…
Kau takhlukan rasa malasmu…
Kau takhlukan jiwa lemah dan mental pengecutmu…

Namun tetap ingat, bahwa setinggi-tingginya gunung yg kau daki, masih ada Dia yg lebih tinggi.

Adalah perjuangan yg dapat melupakanmu dari rasa lelah saat mendaki…
Adalah kerja keras dan kaki yg kuat yang dapat membuat kau lupa akan lamanya waktu dan tingginya jalan yang dilalui…

Bukanlah kaki ini yang membuatku sampai disini
Bukanlah tangan ini yang kuat meraih keatas
Bukanlah tubuh ini yang membawa raga ini berpijak diatas
Namun Dia yang mengajakmu untuk terus melangkah…melangkah dan melangkah untuk menikmati sajian keindahanNya.

Biarkan Dia menyapa mu dalam keheningan, sebab dalam keheningan ini pun Dia lebih tahu dari apa yang kau inginkan.

Bicaralah kepadaNya dalam keheningan ini, dengan lirih dan penuh harap, berilah kekuatanMu untuk mengarungi perjalanan panjang ini.

Bahwa tanah yang kau pijak ini adalah sebagian kecil saja dari kuasanya. Untuk itu tundukan lah jiwa dan ragamu dihadapanNya.

Boleh saja kita mendengar banyak suara ditengah keramaian, namun sedikit sekali makna yg kau dapatkan. Biarkan hening yg membisikanmu beberapa bait kata. Namun kaya akan makna yang akan kau ingat.

Setiap jiwa akan membutuhkan waktu untuk beristirahat, dan sambutlah dia dengan sukacita manakala dia datang.

Kenapa banyak yang yang berteriak cinta namun membisu dalam makna, mengapa mereka bertepuk dada sebagai pahlawan namun tidak dalam nyata. Jangan kau tanya kenapa Dia marah dan tidak tersenyum ramah kepadamu.

Biarkanlah keheningan ini yang mengajarkanmu berjiwa besar
Biarkanlah keheningan ini yang membuatmu tunduk dalam kesederhanaan
Biarkanlah keheningan ini yang memberimu kekuatan saat kau berpijak dikeramaian
Biarkan keheningan ini yang menyampaikan betapa Maha Kuasa Nya Dia.

Ketika ku menemukanMu dikeheningan ini, dan biarkanlah sesaat ku memeluk AgunganMu

Seluas bentangan langit yang kulihat dari pijakan kaki ini, tak berawal dan tak berbatas, seperti CintaMu kepada kami. Alhamdulillahirabbil a’lamiin

Biarkan mata ini memandang putihnya bentangan kabut langitMu, mengagumi kuasa dan kebesaranMu.

Ketika keheningan lebih banyak memberimu makna. Maka biarkan Dia menyapamu, sebagai yang maha penyaji atas kuasa ciaptaanNya.

Sebagaimana badai yg pergi menghilang, maka akan ada langit yang cerah bersinar
Begitupula senyum kita yg terpancar ketika kaki menginjakan kaki di puncak tujuan.
Alhamdulillah, jika bukan karena kuasaMu, maka kaki kecil ini tak akan sanggu melangkah.

Sepertihalnya jalan hidup yg tidak mungkin selalu lurus.
Maka kami temui jalan yg terjal mendaki, kelokan dan jurang, terpaan angin dan panas, pijakan yg rapuh dan langit yg berembun.
Jalanan yg licin serta angin yg menghempaskan.
Segala sesuatu harus diraih bukan dengan harga murah, namun dengan kerja keras dan keyakinan.

Sebagaimana keheningan dan gelapnya malam, maka yakin karena semakin gelap malam maka sebentar lagi pagi akan menjelang.
Maka keheningan dan kegelapan akan berubah menjadi keramaian dan cahaya.

Sebagai mana embun yang bertugas menghiasi pagi, mereka kecil, namun tanpanya kesejukan pagi akan hilang, maka jadilah manusia yg bemberi sekecil apapun.

Hanya Dia yg diatas dan kaki ini yg akan menghantarkan tubuh ke atas. Bukan karena kaki dan badanmu.

Alam bukan untuk dilawan
Namun dekaplah dia sehingga hangat dan dinginnya menyatu dalam diri, biarkan Dia menyapa dengan riuhnya angin yang damai, serta heningnya yang menguatkan.

Hanya kaki yg kuat, mata yg selalu terjaga, pikiran yang terus berpacu yg akan menghantarkan kita menuju puncak.

Ada dingin, ada angin, dan Ada panas,
Semua hilang berganti dengan senyuman tatkala kaki kita menginjakan kaki di atas tanah ini.

Biarkan hening sesaat menemanimu
Sebab dalam hening ini ada energi besar yg kita dapat.

Setiap perjalanan pastilah ada tujuan,
Sejenak kau berhenti, untuk sekedar melepas lelah, dan segeralah bergegas, sebab perjalanan harus terus dilanjutkan

Mendaki ciptaanMu saja kami tidak sanggup ya Allah
Apalagi kami ingin melawan kuasaMu
Tundukannlah hati ini ya Allah
Namu kuatkanlah kaki kami sekokoh ciptaanMu

Bagi yang ingin melihat Album pendakian chapter tentang Reungan ini bisa di download disini : Lebih dekat denganMu diatas sana

Iklan

hari itu jumat 23 Mei 2008

hari itu jumat 23 Mei 2008
selang beberapa hari setelah mereka berpesta
memperingati 100tahun kebangkitan bangsa ini
kami terdiam membisu
bukan karena kibaran sang merah putih yang kami hormati
bukan karena gegap gempitanya pesta pora..

hari itu jumat 23 Mei 2008
bendera setengah tiang kami kibarkan
sekedar tanda cinta kami pada negeri ini
BBM bukan segalanya bagi kami
Namun tidak untuk anak-anak kami yang masih kecil
Namun tidak bagi para jelata ini

bendera setengah tiang kami kibarkan
kiranya tuan di usia 63 tahun ini semakin tua dan rapuh

tak adakah yang mau mencerahkan negeri ini?

Uang mu dan Rumah Kami

sudah berapa uang yang kau kumpulkan
terlihat menyesak disetiap saku celana, baju dan jas mu
bahkan brankas dan laci serta lemari diruanganmu tak cukup
mewadahinya
mungkin untaian nomor rekening yang terus kau tambah
sebentar lagi tak akan cukup pula menyimpannya
bagaimana denga kami
anak kami pernah dibakar hidup-hidup karena tekanan ekonomi
istri kami pernah dianiaya karena buat tak ada belanja
dan menyalakan asap di dapur
pekan lalu rumah kami pun tergusur
namun kami bersyukur kami masih punya harga diri dan kehormatan Baca lebih lanjut

Kursi kami dan Kursi Pak Dewan

hari itu kami telah menukar suara kami
dibilik-bilik suara dikampung kami
murah memang…
hanya 1000, 5000, dan paling tinngi 50.000
untuk harga suara kami
ini bukan pilihan otak kami
namun pilihan perut kami
kami tidak ingin memilihmu
nurani kami tidak menyukaimu
namu otak kami telah buntu
hanya sekedar berharap makan untuk esok pagi… Baca lebih lanjut

rumah kami

mmmh besar sekali rumah kami
banyak sekali makanan yang tersaji di meja makan kami
TV, Kulkas dan sofa yang kami duduki indah sekali
lalu aku berjalan kehalaman rumahku
indah dan asri, sejuk dan nyaman..
kerja kami memang tidak bergaji tinggi,
namun cukup untuk hidup dengan anak dan istri
tak kala aku menoleh kebelakang
dan aku terbangun dari mimpiku…
mana janjimu dulu untuk kami…

Untuk Pak Dewan di Gedung DPR (2)

hari ini kami mempertanyakan
siapakah para pahlawan penolong kami
yang dulu mereka berjanji
suara kami sudah parau ditengah demo orang yang membayar kami
kami memang ingin semua harga turun
namun kami tak tahu kenapa dia yang mengajak kami berdemo
kini pun menghilang
menghilang sepertihalnya mereka yang berlagak menjadi pahlawan
dan mengumbar janji menghembuskan angin surga Baca lebih lanjut

Me

KSA KBB

my topics

my files

Blog Stats

  • 465.168 hits

My Photos gallery

Iklan